Posted on Agustus 1, 2009 by abul khalil
Perayaan Nifsu Sya’ban dalam Sorotan Islam
Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz
Segala puji hanyalah bagi Allah, yang telah menyempurnakan agamaNya bagi kita, dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pengajak ke pintu taubat dan pembawa rahmat.
Amma ba’du :
Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah, 3)
“Apakah mereka mempunyai sesembahan sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridloi Allah ? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang orang yang dhalim itu akan memperoleh azab yang pedih” (QS. As syuro, 21).
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Aqidah, Bid'ah | Ditandai: Malam Nifsu Sya'ban, Nabi Muhammad, Sya'ban | Komentar Dimatikan
Posted on Juli 3, 2009 by abul khalil
Tidak Ada Ibadah Khusus Di Bulan Rajab
Ustadz : Ja’far Shalih
Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram (suci) di dalam Islam. Disebut dengan bulan haram karena pada bulan-bulan ini kita dilarang berperang, selain juga melakukan kedzaliman padanya lebih terlarang isbanding dengan bulan-bulan yang lainnya. Tentang hal ini Allah Subhanahu Wa Ta’aala berfirman;
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah:36)
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Aqidah, Bid'ah, Hadits-Hadits Dha'if | Ditandai: Amal, Amalan, Bid'ah, Hadits, Ibadah, Rajab | Komentar Dimatikan
Posted on Mei 16, 2009 by abul khalil
Shalawat-Shalawat Bid’ah
Penulis : Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi
Sudah bukan rahasia lagi kalau di tengah-tengah kaum muslimin, banyak tersebar berbagai jenis shalawat yang sama sekali tidak berdasarkan dalil dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Shalawat-shalawat itu biasanya dibuat oleh pemimpin tarekat sufi tertentu yang dianggap baik oleh sebagian umat Islam kemudian disebarkan hingga diamalkan secara turun temurun. Padahal jika shalawat-shalawat semacam itu diperhatikan secara cermat, akan nampak berbagai penyimpangan berupa kesyirikan, bid’ah, ghuluw terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sebagainya.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Aqidah, Bid'ah | Ditandai: Al-Fatih, Bid'ah, Do'a, Nabi Muhammad, Nariyah, Sa'adah, Shalawat, Shalawat Badar, Sufi, Tabarruk, Tawassul | Komentar Dimatikan
Posted on Mei 6, 2009 by abul khalil
Menjaga Mata ketika Jima’ (Bersetubuh)
Penulis: Tim Buletin Jum’at Al-Atsariyyah
Melihat kemaluan istri ketika berhubungan adalah boleh berdasarkan hadits-hadits shahih. Adapun hadits yang berbunyi:
إذا جامع أحدكم زوجته أو جاريته فلا ينظر إلى فرجها فإن ذلك يورث العمى
“Apabila seorang diantara kalian berhubungan dengan istrinya atau budaknya, maka janganlah ia melihat kepada kemaluannya, karena hal itu akan mewariskan kebutaan”. [HR. Ibnu Adi dalam Al-Kamil (2/75)].
Maka hadits ini adalah palsu karena dalam sanadnya terdapat Baqiyah ibnul Walid. Dia adalah seorang mudallis yang biasa meriwayatkan dari orang-orang pendusta sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hibban. Lihat Adh-Dho’ifah (195)
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 36 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
http://almakassari.com/?p=214
DIarsipkan di bawah: Hadits-Hadits Dha'if | Ditandai: Bersetubuh, Hadits, Hadits Lemah, Hadits Palsu, Jima' | Komentar Dimatikan
Posted on Mei 3, 2009 by abul khalil
Perbanyak Dzikir Sampai Dianggap Gila
Penulis: Tim Buletin Jum’at Al-Atsariyyah
Di antara kebiasaan orang-orang sufi, mereka berdzikir dengan cara melampaui batas syariat Islam, yaitu berdzikir dengan bilangan yang memberatkan diri seperti berdzikir sebanyak 70 ribu kali, 100 ribu kali. Padahal, maksimal dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebanyak 100 kali dalam dzikir-dzikir tertentu, bukan pada semua jenis dzikir.
Mereka membebani diri seperti ini, karena mendengar hadits berikut:
أكثروا ذكر الله حتى يقولوا مجنون
“Perbanyaklah dzikir sehingga orang-orang berkata, engkau gila”. [HR. Ahmad (3/68), Al-Hakim (1/499), dan Ibnu Asakir (6/29/2)]
Hadits ini lemah karena diriwayatkan oleh Darraj Abu Samhi. Dia lemah riwayatnya yang berasal dari Abul Haitsam. Di-dho’if-kan oleh syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (no. 517) (2/9).
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi Khusus Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp. 200,-/exp)
http://almakassari.com/?p=105
DIarsipkan di bawah: Hadits-Hadits Dha'if | Ditandai: Dzikir, Hadits, Hadits Lemah, Sufi | Komentar Dimatikan
Posted on Mei 1, 2009 by abul khalil
Adzan di Telinga Bayi
oleh : Al Ustadz Abu Fa’izah Abdul Qadir, Lc
Adzan di telinga bayi di saat ia baru lahir, hampir termasuk perkara yang disepakati. Fenomena seperti ini, nampak tersebar di Negeri kita yang jauh dari Ulama rabbaniyyin yang mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shohih dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sehingga membantu pesatnya perkembangan masalah yang satu ini. Selain itu, banyak da’i yang berpangku tangan dan tidak mau meneliti masalah ini lebih detail lagi dari segi keakuratan hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah ini, masalah disyari’atkannya adzan ditelinga bayi di hari kelahirannya. Apalagi setelah tersebarnya kitab-kitab Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- di dalamnya beliau menjelaskan bahwa derajat hadits adzan di telinga bayi adalah “hasan”, tanpa mau lagi berusaha mengetahui dan meneliti derajat hadits-hadits itu.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Hadits-Hadits Dha'if | Ditandai: Adzan, Adzan dan Iqomat pada Bayi, Amal, Amalan, Bayi, Hadits, Hadits Lemah, Hadits Palsu | Komentar Dimatikan
Posted on April 28, 2009 by abul khalil
Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina
Oleh : Tim Buletin Jum’at Al-Atsariyyah Gowa
Hadits dho’if (lemah), apalagi palsu, tidak boleh dijadikan dalil, dan hujjah dalam menetapkan suatu aqidah, dan hukum syar’i di dalam Islam. Demikian pula, tidak boleh diyakini hadits tersebut sebagai sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-
Diantara hadits-hadits dho’if ‘lemah’, hadits yang masyhur digunakan oleh para khatib, dan da’ii dalam mendorong manusia untuk menuntut ilmu dimana pun tempatnya, sekalipun jauhnya sampai ke negeri Tirai Bambu, Cina. Namun sayangnya para khatib, dan da’i kita kurang kepeduliaannya dalam mengetahui derajat hadits ini. Akhirnya, berdusta atas nama Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Hadits-Hadits Dha'if | Ditandai: Cina, Hadits, Hadits Lemah, Hadits Palsu, Ilmu | Komentar Dimatikan
Posted on April 25, 2009 by abul khalil
Hadits Ke-8 dari Kitab ‘Umdatul Ahkam*)
8- عن حمران مولى عثمان بن عفان أنه رأى عثمان رضي الله عنه دعا بوضوء فأفرغ على يديه من إنائه فغسلهما ثلاث مرات ثم أدخل يمينه في الوضوء ثم تمضمض واستنشق واستنثر ثم غسل وجهه ثلاثاً ويديه إلي المرفقين ثلاثاً ثم مسح برأسه ثم غسل كلتا رجليه ثلاثاً ثم قال رأيت النبي صلى الله عليه وسلم توضأ نحو وضوئي هذا وقال (( من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين لا يحدث فيهما نفسه غفر الله له ما تقدم من ذنبه ))
Artinya: Dari Hamran maula ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya Hamran melihat ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu meminta air wudhu, maka beliaupun menuangkan di atas kedua tangannya dari bejana tersebut, maka beliau pun mencuci kedua telapak tangannya sebanyak 3x, kemudian beliau memasukkan tangan kanannya dalam air wudhu kemudian beliau berkumur-kumur, menghirup air (istinsyaq), mengeluarkan air dari hidungnya (istintsar), kemudian beliau mencuci mukanya tiga kali, mencuci kedua tangannya sampai ke siku tiga kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian mencuci kedua kakinya tiga kali, kemudian dia berkata: “saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhu saya ini, dan Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ((Siapa berwudhu seperti wudhu saya ini kemudian shalat dua rakaat dan tidak memberikan sikap was-was dalam dirinya, maka Allah akan mengampuni apa-apa yang telah lalu dari dosa-dosanya))
Penjelasan Hadits:
DIarsipkan di bawah: Fiqh, Silsilah Durus 'Umdatul Ahkam | Ditandai: 'Umdatul Ahkam, Bersuci, Istijmar, Istinja', Istinsyaq, Istintsar, mencuci kaki, Tayammum, Thaharah, Ustadz Dzulqarnain, Wudhu | Komentar Dimatikan
Posted on April 23, 2009 by abul khalil
Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,
“Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).
[sumber http://almakassari.com]
DIarsipkan di bawah: Aqidah, Tahukah Anda | Ditandai: Semut Berbicara | Leave a Comment »
Posted on April 21, 2009 by abul khalil
Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.
عن عبد الله بن عمر رضى الله تعالى عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال تقاتلون اليهود حتى يختبئ أحدهم وراء الحجر فيقول يا عبد الله هذا يهودي ورائي فأقتله
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]
[sumber http://almakassari.com]
DIarsipkan di bawah: Aqidah, Tahukah Anda | Ditandai: Batu Ajaib, Batu Berbicara | Leave a Comment »